Friday, May 19, 2023

ISTIQOMAH DALAM KETAATAN


Istiqamah dalam Ketaatan
 

واستقم كما أمرت ومن تاب معك ولا تطغوا (هود : 112 )

Maka tetaplah engkau pada jalan yang benar…” (Hud:112)

 

Dalam ayat ini Allah memerintahkan hambanya untuk istiqomah dalam kebaikan dan konsisten dalam mengikuti tuntunan Allah SWT. Karena pada ayat sebelumnya dikisahkan bahwa bani israil tidak berpegang teguh kepada taurat dan berselisih tentangnya. Akibatnya, Sebagian dari mereka ada yang mempercayai dan ada pula yang tidak mempercayainya. Maka, agar kisah tersebut tidak terulangi Kembali, ayat 112 mengingatkan nabi agar senantiasa konsisten berpegang teguh pada alquran dan ajarannya.

 

Mungkin kita sering mendengar atau bahkan mengucapkan kata istiqomah, tetapi masih banyak orang yang belum paham makna dari istiqomah itu sendiri. Jika kita kaitkan dengan kondisi yang sekarang, masih banyak di antara kaum muslimim yang belum konsisten dalam menjalankan ketaatan pada Allah SWT. Contoh fakta yang bisa kita lihat di sekitar kita, seperti dalam berpakaian. Terkadang seseorang akan menutup auratnya di kondisi kondisi tertentu saja, hanya untuk menyesuaikan dengan keadaan sekitar yang ada, karena di kondisi lain bisa saja ia membuka kembali auratnya, bahkan  mengumbarnya dengan sengaja, apalagi  keadaan zaman sekarang, perkembangan teknologi yang canggih, dan lingkungan yang tidak mendukung membuat istikamah itu terasa berat.


Faktor pertama yang sering dijumpai yaitu, pemahaman masyarakat yang masih kurang terkait kewajiban dalam menutup aurat sebagai sebuah kewajiban bagi seorang muslim, bukan sekedar fashion agar terlihat cantik, anggun dan menawan. Seakan-akan menutup aurat hanya simbol yang kosong dari keimanan. Akhirnya muncul image meskipun berhijab tapi masih melakukan kemaksiatan seperti berzina, korupsi dan lain-lain, yang membuat kesempatan bagi musuh Islam untuk memperburuk citra keindahan Islam itu sendiri. Selain itu, opini lain muncul seperti "jilbabin hati dulu sebelum berjilbab". Padahal syari'at Islam itu tidak terpisah dari keimanan. Sebagaimana makna Iman yang diketahui oleh umat Islam yaitu keyakinan dalam hati yang diucapkan dengan lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan. Masihkah merasa bingung?


Faktor kedua, lingkungan yang tidak mendukung, baik di rumah atau pun masyarat. karna istiqomah adalah suatu hal yang cukup berat, tidak mungkin kita berjalan sendiri, karena aksn berbenturan dengan keinginan orang lain yang bertentangan dengan keistiqamahan kita, maka lingkungan sekitar adalah faktor yang sangat penting dalam menjaga keistiqamahan seseorang. 


Menciptakan lingkungan yang mendukung semacam ini tidaklah mudah, karena butuh pihak-pihak yang penting yang mengatur, agar kehidupan yang dijalani menjadi seirama dan saling menghormati dan mendukung. Namun jika pihak yang berwenang tidak bersedia mewujudkan harapan kita, maka minimal kita bisa mencoba menciptakan sendiri dengan  mengajak orang di sekitar sebagai bentuk pelaksanaan syariat beramal ma'ruf nahi munkar, dan berusaha mengajak bersama dalam keistiqomahan di jalan kebenaran.


Akhirnya, melakukan ketaan secara bersamaan menjadi lebih mudah dan ringan. Maka dari itu seharusnya kita senantiasa peduli dengan orang-orang di sekitar kita, terutama orang terdekat, karena keistiqomah teman dekat kita akan yang memengaruhi kita, pun sebaliknya, karena kerburukan itu cepat sekali menular.


Kemudian, faktor yang ketiga yaitu niat kita, Ketika kita benar-benar memiliki niat dan tekad yang kuat, maka anggota tubuh ini tidak lagi merasa terpaksa untuk melakukan ketaatan demi ketaatan. Ia akan spontan melakukan tanpa disuruh, dan akan gelisah jika tidak melakukan. kemudian kita jangan merasa aman dengan niat yang sudah kita buat, ia harus sering dimuhasabahi dan diluruskan agar senatiasa tidak menyimpang dari tujuan awal. Dalam hadist berikut ini menjelaskan,

Dari Amirul mukminin, Abu Hafsh umar bin khattab ra berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda :

 segala perbuatan itu tergantung pada niatnya, setiap orang akan mendapatkan pahala dari apa yang diniatkannya” (HR. Bukhari dan muslim)

 

Para ulama memasukkan hadist niat ini diawal pembahasan kitab-kitab mereka, hal ini dilakukan tentu bukan tanpa maksud dan tujuan, bahkan hadist ini masuk dalam 70 bab masalah fiqih, imam syafi’i mengatakan bahwa hadist ini merupakan sepertiga dari ilmu, bahkan imam dawud ra pun mengkategorikan sebagai separuh dari agama. Abdullah bin mubarok berkata :

“Berapa banyak amal yang besar menjadi kecil karena niatnya, dan berapa banyak amalan yang remeh menjadi besar karna niatnya”


Niat memiliki peranan penting dalam aktivitas kita sehari hari, karena niat meskipun letaknya diawal dalam setiap perbuatan yang hendak kita lakukan, akan tetapi niat juga menentukan tujuan akhir dari hidup kita.

 

Dalam islam, istiqomah adalah hal berpendirian kuat atau teguh pendirian, dan dijelaskan dalam kitab riyadush-sholihin bahwa istiqomah itu maju, lurus, terus meningkat, tidak tetap, bahkan seharusnya lebih baik hari demi hari. Dan jika sama saja seperti hari sebelumnya maka ia akan termasuk orang yang merugi, sebagaimana yang disebutkan dalam hadist dibawah ini.

jika hari ini engkau lebih buruk dibandingkan hari kemarin maka engkau termasuk orang yang celaka atau tercela, dan jika engkau sama saja seperti hari kemarin maka engkau akan termasuk orang yang merugi, begitu juga jika engkau bisa lebih baik dari hari kemarin maka engkau termasuk orang yang beruntung”  


Dan sesungguhnya orang orang yang senantiasa istiqomah pada jalan-NYA niscaya ia tidak memiliki rasa khawatir dan tidak merasa bersedih hati. Allah berfirman pada surah Al-ahqaf ayat 13-14  :

 

 { إِنَّ ٱلَّذِینَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَـٰمُوا۟ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡهِمۡ وَلَا هُمۡ یَحۡزَنُونَ (13) أُو۟لَـٰۤىِٕكَ أَصۡحَـٰبُ ٱلۡجَنَّةِ خَـٰلِدِینَ فِیهَا جَزَاۤءَۢ بِمَا كَانُوا۟ یَعۡمَلُونَ (14) }

"Sesungguhnya orang-orang yang berkata, "Tuhan kami adalah Allah," kemudian mereka tetap istiqamah,tidak ada rasa khawatir pada mereka, tidak (pula) bersedih hati.  Mereka itulah para penghuni surga, kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan".

[Surat Al-Ahqaf: 13-14]


Dan sungguh telah disebutkan dalam hadist  “Bahwa Allah mencintai suatu amal kecil ataupun sedikitit tetapi dilakukan secara terus menerus”

Wa Allahu A’lamu bi Shawab. 


Semoga kita senantiasa istiqomah pada jalan-NYA.


Oleh: N@yla


Profil singkat Penulis

Dia adalah siswi kelas 3 SMP yang sedang menimba ilmu di salah satu pesantren di Bogor. Saat anak-anak seusianya berlomba-lomba untuk mengimbangi trend di dunianya, dia berani mengambil keputusan untuk dirinya, dia memahami benar kehidupan dan segala pemberianNya adalah amanah yang harus ditempatkan pada posisinya, baik berupa materi atau pun non materi, ia menempatkan pilihannya pada apa yang Tuhannya inginkan.

Semoga tulisannya mampu mengispirasi anak-anak seusianya agar kembali berfikir dengan akal sehatnya terhadap konsekuensi dari setiap pilihannya agar ia tidak menyesal dikemudian hari.


Baca juga Karya anak SMP yang lainnya

1. Istiqamah dalam Ketaatan

2. Remaja dan Cinta

No comments:

Post a Comment