Pentingnya Penerapan Thariqoh Fi Darsi Dalam Halqah Bagi Pembentukan Kualitas Syabab
"Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya" (TQS. An-Nisa : 36)
Ayat diatas menjadi pembuka kitab yang berjudul Asy-Syakhsiyah al Islamiyyah jilid I. Ayat yang mengajak siapapun untuk beriman padahal mereka sudah beriman. Bisa bermakna bahwa ayat tersebut meminta orang-orang beriman untuk memperbarui keimannnya.
Adapun kitab Syakhsiyah Islamiyah jilid I adalah kitab yang membahas tentang makna kepribadian, gambarannya dan metode untuk membentuknya pada diri seseorang. Kitab syakhsiyah Islamiyah jilid I ini seolah menunjukkan jalan
untuk menjawab seruan ayat di atas, yaitu jalan untuk memperbarui keimanan dan menjadikan iman tersebut sebagai suatu yang menghunjam dalam jiwa mereka dan membentuk syakhsiyah mereka menjadi syakhsiyah Islamiyah.
Dalam bab pertama kita tersebut dikatakan seseorang yang bersyakhsiyah Islamiyah ketika dia telah memiliki aqliyah dan nafsiyah Islamiyah. Yaitu menjadikan Islam sebagai sandaran atau tolok ukur atas semua pemikirannya secara praktis dan secara riil (amaliyan wa waaqiiyyan) serta menjadikan hanya Islam saja sebagai tolok ukur atas seluruh pemenuhannya (amalnya) secara praktis dan riil.
Kunci pembentukan Syakhsiyah Islamiyyah dalam 000 di lakukan melalui halqah (termasuk didalamnya mutabaah) sebagai mana disebutkan dalam milaf idari...tujuan membina dalam halqah adalah semata-mata untuk membentuk kepribadian Islam... dengan tujuan tersebut halqah merupakan aktifitas 000 yang paling penting. Didalam halqah terjadi penyampaian tsaqofah 000 dan pembentukan syakhsiyah yang khas sesuai tsaqofah 000 tersebut pada diri individu syabab 000.
Mereka adalah pengemban dakwah dimana dakwah ini bergerak, berkembang, meluas dan mampu merekrut sebanyak-banyaknya pendukung, hanya jika bergerak dan berjuang untuk dakwah. Mereka terdorong untuk melakukan itu karena proses didalam halqah. Maka dikatakan amir 000 bahwa halqah adalah pabrik pencetak individu (sosok) pengemban dakwah sekaligus penghasil energi dan bahan dakwah. Halqah adalah penentu eksistensi dakwah, keberlangsungan dakwah dan penentu kuat lemahnya dakwah.
Karena demikian pentingnya fungsi halqah, maka penting bagi para anggota 000 khususnya para musyrifah untuk memperhatikan dan menerapkan thariqah Islam fi darsi (metode pembelajaran Islam) dalam halqah.
Metode Pembelajaran Islam (Thariqoh Islam fi Darsi)
Tsaqofah Islam memilliki thariqoh tertentu dalam pembela tersebut dapat disimpulkan menjadi 3 point :
1. Tsaqofah Islam di pelajari dengan mendalam hingga dipahami hakikatnya dengan pemahaman yang benar, sebab tsaqofah Islam bersifat fikriyah, mendalam, mengakar, memerlukan kesabaran dan keteguhan dalam mempelajarinya. Penerimaannya harus dengan cara talaqqiyan fikriyan (pertemuan yang bersifat pemikiran dimana ketika membahas sebuah fakta harus dipelajari secara teliti, sampai bisa menyingkap hakikatnya dan menghilangkan semua kesamaran darinya , kemudian nash-nash yang berkaitan dengan fakta tersebut dipelajari sampai bisa dipahami makna-makna kosakatanya, makna kalimatnya, mantuq dan mafhumnya, kemudian nash-nash tersebut diterapkan pada fakta tadi. Dengan demikian terlebih dahulu adalah menjelmakan fakta sedemikian rupa sehingga bisa mempengauhi perasaan dan membangun kesadaran,setelah itu baru mengeluarkan putusan atas fakta tersebut dan memberikan pemikiran yang benar tentang fakta tersebut.)
2. Orang yang belajar mesti meyakini apa yang sedang dipelajarinya agar dia beraktivitas dengannya. Yaitu membenarkan hakekat yang dipelajarinya dengan pembenaran yang pasti tanpa keraguan jika hakekat yang dipelajarinya itu berkaitan dengan Aqidah. Dan berdasarkan ghalabatudz Dzan jika Hakekat yang dipelajari tersebut adalah syariat. Dan Hakikat yang dipelajari haruslah bersandar pada suatu asal yang diyakininya dengan keyakinan yang pasti. Karenanya, orang yang belajar disyaratkan untuk mengambil sesuatu yang dipelajarinya dengan Itiqaad (sepenuh keyakinan). Menjadikan itiqaad sebagai asas dalam pengambilan tsaqofah akan mewujudkan tsaqofah Islam pada kondisi yang paling unggul dan khas, yaitu mendalam dan pada saat yang sama mampu membangkitkan dan mempengaruhi (mutsiiroh wa muatsiiroh), sehingga menjadikan orang yang memilikinya sebagai potensi yang menggelora yang mengobarkan api untuk membakar kerusakan dan menyalakan cahaya yang menerangi jalan kebaikan.
3. Orang yang mempelajarinya dengan pembelajaran yang bersifat praktis yaitu sebagai solusi atas fakta yang bisa dijangkau dan diindera. Tsaqofah Islam harus dipelajari dengan benar untuk diterapkan ketika muncul faktanya dalam kehidupan, bukan sekedar untuk kepuasan intelektual saja.
Inilah metode pembelajaran dalam Islam, yaitu mendalam dalam pembahasan, meyakini sesuatu yang dicapai melalui pembahasan tersebut atau terhadap apa yang dibahas, serta mengambilnya secara praktis untuk diterapkan dalam kancah kehidupan.
Ketika thoriqoh ini dijalankan dalam proses pembelajaran, maka seorang muslim yang memiliki tsaqofah Islam melui metode tersebut akan mendalam pemikirannya, peka perasaannya dan mampu memecahkan segala problematika kehidupan. Pemikiran pemikiran Islam menjadikan setiap orang yang memiliki tsaqofah akan berpikiran mendalam, cemerlang, memiliki semangat yang menggebu-gebu dan berkobar-kobar, menggadaikan jiwanya karena Allah SWT di
jalan Islam dengan mengharapkan keridhoan allah SWT. Orang memilik tsaqofah ini juga akan mengetahui bagaimana memecahkan problematika kehidupan.
Karenanya ia akan terjun kemedan kehidupan dalam keadaan memiliki bekal sebaik-baik bekal perbekalan, yaitu pemikiran yang cemerlang, taqwa dan pengetahuan yang dapat menuntaskan segala problematika. Dan ini adalah kumpulan kebaikan yang menggunung.
Optimalisasi Thoriqah Islam fi Darsi Dalam Halqah
Thoriqah Islam fi darsi harus diterapkan dalam halqah agar tsaqofah 000 dapat menjadi mutsiiraah wa muatsiiroh bagi setiap anggota yang mengikutinya.
000 benar-benar berusaha menjaga agar setiap halqah yang terjadi dalam tubuhnya senantiasa bersifat talaqiyyan fikriyyan dengan memberikan beberapa rambu untuk menjalankan perhalqahan.
Rambu pertama adalah hanya musyrifah yang berhak melakukan syarah (penjelasan dalam halqah). Para musyrifah adalah orang yang telah mendapatkan syarah dari 000 untuk setiap alinea dalam setiap kita yang akan dikaji dalam halqahnya bersama para anggota halqah. Syarah tersebut tidak boleh keluar sedikitpun dari yang diperoleh musyrifah dari 000.
Optimalisasi talaqqiyan fikriyyan juga terlihat dari rambu lainnya yaitu musyrifah (jika merasa perlu) boleh mengulang bacaan anggota halqahnya dengan bacaan yang memperjelas maknanya. Selain itu dia harus bersikap tenang, bersuara normal dan menguasai emosi. Suasana halqah harus dikendalikan sedemikian rupa agar jauh dari segala perkara yang juah dari suasana belajar dan dakwah.
Demikian, rambu yang disusun oleh 000 sedemikian rupa dalam milaf idari untuk memberikan panduan bagi para musyrifah dan anggota halqahnya, agar halqah bisa menerapkan metode pembelajaran dalam Islam secara optimal sehingga bisa mencetak seorang individu dengan karakter sesuai tsaqofah yang sudah di pelajarinya dalam halqah.
Hasil Aplikasi thoriqah fi darsi dalam halqah Dalam kitab Nidham Islam bab Qiiyadah Fikriyyah dijelaskan bahwa Islam merupakan mabda yaitu aqidah akliyah yang memancarkan nidhom. Aqidah dalam mabda adalah qoidah fikriyyah yang membangun setiap pemikiran cabang pada individu dan menentukan arah pandang dan penyelesaian problem hidupnya.
Maka jika seseorang telah memahami dari perhalqahannya bahwa aqidah Islam adalah qaidah fikriyah baginya, dia akan memandang dan menilai setiap fakta dengan tolok ukur Islam, dan menyelesaikannya dengan syariat Islam. Seluruh perbuatannya senantiasa terikat dengan hukum syara. Dia tidak akan melakukan perbuatan apapun yang dia tidak ketahui hukumnya atas perbuatan itu. Kesadaran ini akan mendorong untuk senantiasa belajar atau mencari tsaqofah tentang hukum Allah bagi pemenuhan aktivitasnya sehari-hari.
Aqidah dalam mabda juga sekaligus menjadi qiyadah fikriyyah yang mendorong setiap individu pemeluknya selalu berambisi untuk memimpin pemikiran orang lain dengan aqidah yang diyakininya. Bahkan ambisi untuk mempengaruhi dan memimpin pemikiran pihak lain adalah ciri khas pemeluk mabda. Dari sinilah selalu muncul pertarungan antara Islam versus kekufuran yaitu kapitalisme dan sosialisme dari level individu hingga ke level negara (daulah Islam vs daulah khufur). Maka orang yang tidak ada mabda pada dirinya, mereka senantiasa akan menjadi pihak yang terseret dalam pertarungan dan terombang-ambing mengikuti arus mabda yang kuat. Setiap kali mereka bercita-cita dan ingin melakukan sesuatu, ia senantiasa berada dibawah keinginan mabda yang kuat tersebut.
Saat ini mabda yang kuat memimpin ditengah umat adalah kapitalisme, meski umat beragama Islam, namun Islam tidak lebih hanya sekedar agama ritual bagi mereka dan bukan sebagai mabda. Tak heran meski mereka mengetahui bahwa kehidupan dunia itu fana dan kelak mereka akan menghadap Allah SWT, mereka tidak menjalani hidup dengan syariat Islam kecuali dalam aspek privat saja.
Kehidupan umat justru kental dengan prinsip dan nilai kapitalisme, antara lain senantiasa mengejar materi untuk memperoleh kebahagiaan dan menilai segala sesuatu dari manfaat yang diperoleh (termasuk menghitung-hitung pengorbanan dianggap lebih besar daripada hasilnya sehingga mencari-cari alasan untuk tidak melakukan amal-amal yang menampakkan adanya mabda dalam dirinya.
Melihat kondisi umat yang seperti ini, setiap syabab terutama hizbiyah yang telah meyakini mabda Islam akan terdorong untuk berpegang teguh pada mabdanya. Dia tidak akan merelakan dirinya terseret dan kalah dengan arus serta jebakan narasi sekuler kapitalisme. Keteguhannya menunjukkan seberapa besar mabda menancap dalam dirinya (seberapa besar keimanannya kepada mabda).
Qiyadah fikriyyah Islam dalam dirinya membuatnya berambisi untuk menghentikan kepemimpinan qiyadah fikriyyah kapitalisme ditubuh umat. Begitu juga dalam beramal seorang hizbiyah tidak akan menganggap dirinya lebih tinggi dari umat sehingga merasa tidak pantas mengajak mereka kepada Islam (senior mengajak ngaji adik angkatan, dosen mengajak ngaji karyawan). Karena Qiyadah fikriyyah Islam tidak berbicara tentang pantas atau tidak, tinggi atau rendahnya kedudukan seseorang dalam kacamata kapitalis. Kita dan umat secara manusia kedudukannya sama di hadapan Allah SWT, kecuali ketaqwaan kita.
Sebaliknya hizbiyah yang justru merelakan kapitalisme tetap merajalela di tengah umat, membiarkan diri terserat arus serta jebakan narasi sekuler kapitalisme dan tidak ada ambisi memimpin umat, menunjukkan betapa lemahnya mabda yang ada pada dirinya. Mereka yang tidak bersedia melakukan amanah dakwah tertentu karena mengganggu karir yang sedang dibangunnya untuk meraih cita-citanya adalah contoh orang-orang yang kalah, terseret dan merelakan dirirnya dipimpin oleh qiyadah fikriyyah kapitalisme dimana tanpa dia sadari sesungguhnya segala cita-citanya itu bisa buyar atas kehendak Allah SWT, baik berupa qodlo atas dirinya ataupun berupa tegaknya Khilafah (yang dia pun tidak akan mendapatkan bagian apa-apa dari keberhasilan perjuangan tersebut.
Demikian pula, hizbiyah yang berlambat-lambat dalam mendatangi dan menjalin hubungan (kontak) lebih kuat dengan umat yang merespon positif agenda dakwah 000 atau memberikan sambutan menyenangkan dalam kontak pertama, karena lebih sibuk dengan urusan pribadi atau menunda-nunda tanpa alasan yang jelas, juga termasuk orang-orang yang kalah terseret dalam pertarungan qiyadah fikriyyah. Sedangkan hizbiyah yang sama sekali tidak ada gairah dalam berdakwah, menghabiskan waktu-waktunya untuk urusan pribadinya tentu perlu dipertanyakan masih adakah qiyadah fikriyyah Islam dalam benaknya?, masih adakah mabda dalam dirinya?
Sesungguhnya setiap hizbiyah harus waspada terhadap hilangnya qiyadah fikriyyah Islam dalam dirinya dan saat itu Islam hanya menjadi diin ruhiyah saja.
Demikian pula, setiap musyrifah hendaknya benar-benar berusaha untuk menancapkan qiyadah fikriyyah Islam pada diri darisahnya setelah mengkaji bab qiyadah fikriyyah.
Tidak berhenti pada adanya ambisi saja, qiyadah fikriyyah pada diri seseorang juga mendorongnya untuk berjuang memenangkan qiyadah fikriyyahnya. Mereka akan menyusun langkah dan uslub agar perjuangan bisa dimenangkan oleh pihaknya. Maka kita bisa melihat, kegigihan kapitalisme dalam menyusun berbagai khittoh dan uslub untuk menguasai kaum muslimin menjadi bagian tak terpisahkan dari kebijakan negara-negara pengemban qiyadah fikriyyah kapitalisme, demikian pula di level individu-individunya.
Qiyadah fikriyyah Islam dalam diri hizbiyyah seharusnya juga mendorong mereka untuk memenangkan Islam atas kapitalisme. Baginya, mengamati peta umat, menghitung kekuatan, merancang strategi, bergerak sesuai rancangan, mengevaluasi gerak, mengunci kekuatan yang sudah tergenggam adalah amal yang harus dia lakukan dan bukan menjadi pekerjaan jihaz semata. Meski dalam level individual atau tim kecil dan masih membutuhkan arahan jihaz, namun kesadaran untuk tidak asal bergerak dan tidak asal melepas pukulan ke tengah umat, menjadi bagian dari kesadarannya. Dia selalu berhitung dan menganalisa, serta berkreasi dan menciptakan uslub karena ingin mengoptimalkan kaidah kausalitas dalam kepantasan ikhtiar paling puncak agar ditolong oleh Allah Taala untuk memenangkan dakwah ini (bukan sekedar memberikan halqah, mutabah yang hanya curhat-curhatan masalah pribadi). Dia bergerak seiring sejalan bagai jalinan yang berpilin (istilah biologi double helix) saling menguatkan dan bersinergi dengan jihaznya. Musyrifah sangat mengenal darisahnya, tidak lepas dari perhatiannya. Sehingga pilinan akan semakin kuat antara hizbiyah dengan jihaz.
Seluruhnya itu karena qiyadah fikriyyah Islam sudah menjelma dari pemikiran yang disampaikan dalam halqah pada dirinya, menjadi ambisi untuk memimpin dan akhirnya mengkristal membentuk karakter seorang mujahidah dalam pertarungan qiyadah fikriyyah. Inilah buah thoriqah Islam fi darsi bab qiyadah fikriyyah.
Penutup
000 telah mentabani sebagian dari kekayaan tsaqofah Islam yang sangat banyak, kemudian menyusunnya dalam berbagai kitab yang diwajibkan untuk disampaikan dalam halqah para syababnya. Setiap bab telah disusun sedemikian rupa dengan tujuan membentuk sosok agen perubahan atau subyek kebangkitan yang akan membangkitkan umat dan mengangkatnya dari keterpurukan, sekaligus membangun jalan ikhtiar untuk mewujudkan kemenangan hakiki, yaitu kehidupan Islam dalam naungan khilafah.
Karenanya, seharusnya setiap bab dalam kitab mutabbannat disampaikan sesuai thoriqah Islam fi darsi sehingga hasil- hasil yang luar biasa dapat di capai dalam sebuah perhalqoan bahkan individunya , sebagaimana di gambarkan dalam bab qiyadah fikriiyah diatas. Ini merupakan tanggung jawab hizbiyah terutama musyrifah dalam halqah.
Dengan demikian, dakwah akan bisa bergulir cepat, dinamis dan mampu menghasilkan pukulan-pukulan efektif untuk menghancurkan kapitalisme yang masih bercokol di benak umat dan membersihkannya dengan cahaya Islam, kemudian menegakkan Khilafah Islamiyyah di tengah mereka. tersebab dakwah tidak bisa dipisahkan dengan politik dalam melayani dan mengurusi umat,serta mempengaruhi umat agar menjadikan Islam sebagai satu-satunya standart bagi umat dalam menyelesaikan segala persoalan kehidupan mereka.
Wallahualam bis showab.
Baca juga Artikel lain

No comments:
Post a Comment