Pada pertengahan tahun ke-5 kenabian, permusuhan terhadap dakwah semakit berat, bahkan berubah menjadi penindasan dan penganiyaan yang sadis. Makkah saat itu, bukanlah tempat yang aman bagi kaum Rasulullah Saw dan para sahabatnya. Dalam kondisi yang seperti inilah, turun QS az-Zumar: 10 yang mengisyaratkan perlunya berhijrah dan mengumumkan bahwa bumi Allah tidaklah sempit, dalam firmanNya:
قُلْ
يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي
هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى
الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
“ Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku
yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di
dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya
hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”.
(Q.S. az-Zumar: 10).
Isyarat dalam ayat ini dijalankan
Oleh Rasulullah Saw dengan memerintahkan sebagain sahabatnya untuk berhijrah ke
Habsyah. Kisah Hijarah Tersebut
menunjukkan betapa agungnya kesadaran politik (al-wa’yu as-siyasiyy) Rasullah
Saw, sekaligus menampilkan kehebatan murid-murid Rasulullah Saw dalam
menjalankan rencana politik (khithoh siyasiyyah) yang telah digariskan
Rasulullah Saw, sekaligus menunjukan betapa tingginya pemahaman mereka terhadap
setiap ayat yang turun. Padahal bagi umumnya kita yang membaca ayat tersebut,
mungkin nampak sederhana saja.
Ruh
dari ayat diatas adalah perintah untuk menyelamatkan dakwah. Dari sini nampak
bahwa dipilihnya Habsyah merupakan keputusan politik yang luar bisa. Setidaknya
karena beberapa sebab, diantaranya, pertama: Ia jauh dari makkah, maka
hijrah akan bisa menjauhkan dakwah dari bahaya, kedua: Penduduk Habsyah
adalah nashraniy, maka ia lebih dekat dengan kaum muslimin (QS. Al-Maidah:2), ketiga:
Di sana terdapat raja yang adil, tidak
seorangpun yang berada terzhalimi disisinya. Keempat: Habsyah adalah
negara kuat baik secara politik maupun secara ekonomi, maka tidak mudah bagi
Qurisy untuk menyerang Habsyah karena melindungi sahabat Rasulullah Saw.
Demikian
pula, nama-nama sahabat yang diberangkatkan oleh Rasulullah Saw, juga
menunjukan bahwa hijarah ini bukan semata menyelamatkan pengemban dakwah,
melainkan dakwah itu sendirinya. Buktinya mereka yang berhijarah ke Habsyah,
baik yang pertama maupun yang kedua, justeru sahabat-sahabat yang kuat atau terhormat
dikalangan kaumnya yang notabene berasala dari kabilah yang berbeda-beda.
Diantara mereka adalah, Ut’sman Ibnu ‘Affan [Bani Umayyah] , az-Zubair Bin
‘Awam [Bani Asad], Mush’ab Bin ‘Umair [al-Abdari], ‘Amiir Bin Rabi’ah [Bani
‘Anz Ibu Wail], Ja’far Bin Abi Thalib [Bani Hasyim, ], Amru dan Khalid Ibnu
Sa’id Ibnul ‘Ash Ummu Habibah Binti Abi Sufyan, Fatimah Binti Sofwan Bin
Umayyah [Seluruhnya dari Bani Umyah],, Firos Bin Nadhr Bin Harits [al-‘Abdariy],
Hisyam Bin ‘Mughiroh [Bani Makhzum], Suhail Bin Amr [Bani Amir], dll.
Lebih dari itu, dipilihnya Habasyah
dan nama-nama sahabat tersebut, terbukti memberikan telah tekanan bahkan
pukulan bagi kafir Quraisy. Di makkah, mereka tidak bisa dengan mudah menekan
kabilah dari mana sahabat tersebut berasal, sebab jumlah mereka banyak. Di
Habsyah, mereka juga tidak mudah untuk mengambil keputusan untuk menyerang,
sebab mereka juga kuat. Akhirnya mereka hanya bisa mengirim utusan, yang
berakhir dengan kekalahan dan kehinaan.
Inilah diantara sepenggal contoh
bagaimana ayat itu dipahami dan dilaksanakan oleh Rasulullah Saw dan
sahabtanya. Dalam situasi terjepit, ayat diatas telah memberi Inspirasi yang
luar biasa sehingga konstelasinya menjadi berbalik. Gambaran yang lebih rinci
ditunjukkan dalam kepimpinan Ja’far Abi Thalib, Murid Rasullah Saw yang telah
medapatkan pendidikan dari Rasulullah Saw selama kurang lebih lima tahun saja di
Darul Arqam. Dalam situasi tertekan
karena fitnah dan tuduhan keji ‘Amru Bin ‘Ash yang kala itu menjadi wakil
utusan kafi Quraisy, Ja’far Bin Abi mampu membuat raja menangis dan akhirnya
mengusir utusan Quraisy, meski hanya memiliki kesempatan berbicaran beberapa
menit saja. Hal sealin karena Ia beriman kepada Allah Swt yang melahirkan
kekuatan dan ketawakalan, Ia juga faqih mengerti benar tentang Islam. Selain
faqih, Ia juga memiliki kesadaran politik yang luar biasa, sehingga ia mampu meyakinkan Raja bahkan membuatnya menangis dan
mengambil keputusan yang menghinakan kafir Qurasy.
Mari kita lihat kisahnya, sebagaimana
kita tahu ‘Amru bin al-‘Ash dan ‘Abdulullah bin Abi Rabi’ah – sebelum keduanya
masuk Islam -, untuk memulai rencananya dalam meyakinkan Raja Najasyiy, ia membawa
titipan hadiah yang menggiurkan dari pemuka Quraisy untuk an-Najasyi dan para
uskupnya. Kedua orang ini mempersembahkan hadiah kepada para uskup terlebih
dahulu sambil membekali mereka beberapa alasan yang dengannya kaum muslimin
dapat diusir dari negerinya. Setelah para uskup menyetujui untuk mengangkat
permintaan keduanya tersebut kepada an-Najasyi agar mengusir kaum muslimin,
keduanya langsung berhadapan dengan sang raja, menyerahkan beberapa buah hadiah
kepadanya lalu berbicara dengannya.
Lalu keduanya berkata dihadapan Raja.
Kalimatnya singkat namun mematikan:
أيها
الملك، إنه قد ضَوَى إلى بلدك غلمان سفهاء، فارقوا دين قومهم، ولم يدخلوا في دينك،
وجاءوا بدين ابتدعوه، لا نعرفه نحن ولا أنت، وقد بعثنا إليك فيهم أشراف قومهم من
آبائهم وأعمامهم وعشائرهم؛ لتردهم إليهم، فهم أعلى بهم عينًا، وأعلم بما عابوا
عليهم، وعاتبوهم فيه
“Wahai tuan raja! Sesungguhnya beberapa
orang yang masih bau kencur memasuki negeri Anda sebagai orang asing; mereka
meninggalkan agama kaum mereka namun tidak juga menganut agamamu bahkan mereka
membawa agama baru yang tidak kami ketahui, demikian juga dengan tuan. Kami
disini, adalah sebagai utusan kepadamu. Diantara orang yang mengutus kami
tersebut ada yang merupakan pemuka kaum mereka dari nenek moyang, paman-paman
serta suku mereka agar tuan mengembalikan para pendatang ini kepada mereka.
Tentunya, mereka lebih banyak memantau tindak tanduk para pendatang tersebut
dan polah mereka mencela dan mencaci-maki mereka”.
Para uskup serta merta menimpali:
صدقا أيها الملك،
فأسلمهم إليهما، فليرداهم إلى قومهم وبلادهم .
“Benar apa yang dikatakan
oleh keduanya wahai tuan raja! Serahkanlah mereka kepada keduanya agar keduanya
membawa mereka pulang ke kaum dan negeri mereka”.
Akan tetapi an-Najasyi berpandangan
bahwa masalah ini perlu ada kejelasan dan mendengarkan dari kedua belah pihak
sekaligus. Lalu dia mengutus orang untuk menemui kaum muslimin dan mengundang
mereka untuk hadir. Merekapun menghadirinya dan telah bersepakat akan
mengatakan sejujur-jujurnya apa yang telah terjadi. An-Najasyi berkata kepada
mereka: “Apa gerangan agama yang bisa memisahkan kalian dari kaum kalian dan
tidak membuat kalian masuk ke dalam agamaku atau agama-agama yang lain?”
Ja’far bin Abi Thalibsebagai juru
bicara kaum muslimin menjawab. Disinilah nampak jelas bagaimana murid Rasullah
Saw ini adalah seorang politisi ulung. Dalam waktu yang singkat ia bagi
pernyataannya menjadi lima bagian.
Pertama, berkaitan sifat-sifat buruk
dan kehidupan jahiliyah yang meliputi mereka sebelum datanganya Islam, dimana
tak seorang orang yang berakal dapat menerimanya. Ia berkata:
أيها الملك كنا قومًا أهل جاهلية؛ نعبد
الأصنام ونأكل الميتة، ونأتى الفواحش، ونقطع الأرحام، ونسىء الجوار، ويأكل منا
القوى الضعيف،
“Wahai tuan raja! Kami
dahulunya adalah ahli Jahiliyyah; menyembah berhala, memakan bangkai binatang,
melakukan perbuatan keji, memutus tali rahim, suka mengusik tetangga. Kaum yang
kuat diantara kami menindas kaum yang lemah.
Kedua, berkaitan sifat Rasulullah
Saw, pembawa Risalah Islam, dimana Ja’far tiga rukun akhlaq, bila berbicara dia
jujur, bila dipercaya dia amanah, dan bila disulut birahi dan amarahnya dia
‘afiif:
فكنا على ذلك حتى بعث الله إلينا رسولًا
منا، نعرف نسبه وصدقه وأمانته وعفافه،
Demikianlah kondisi kami
ketika itu, hingga Allah mengutus kepada kami seorang Rasul dari bangsa kami
sendiri yang kami tahu persis nasab, kejujuran, amanat serta kesucian dirinya.
Ketiga, berkaitan dengan Risalah
Islam itu sendiri, yang berbeda secara diametral dengan kehidupan jahiliyah
yang Ja’far sampaikan sebelumnya:
فدعانا إلى الله لنوحده ونعبده، ونخلع ما
كنا نعبد نحن وآباؤنا من دونه من الحجارة والأوثان، وأمرنا بصدق الحديث، وأداء
الأمانة، وصلة الرحم، وحسن الجوار، والكف عن المحارم والدماء، ونهانا عن الفواحش،
وقول الزور، وأكل مال اليتيم،وقذف المحصنات،وأمرنا أن نعبد الله وحده،لا نشرك به شيئًا،وأمرنا
بالصلاة والزكاة والصيام ـ فعدد عليه أمور الإسلام ـ
Lalu dia mengajak kami kepada
Allah guna mentauhidkan dan menyembahNya serta agar kami tidak lagi menyembah
batu dan berhala yang dulu disembah oleh nenek moyang kami. Beliau
memerintahkan kami agar berlaku jujur dalam bicara, melaksanakan amanat,
menyambung tali rahim, berbuat baik kepada tetangga dan menghindari pertumpahan
darah. Dia melarang kami melakukan perbuatan yang keji, berbicara dusta,
memakan harta anak yatim serta menuduh wanita yang suci melakukan zina tanpa
bukti. Beliau memerintahkan kami agar menyembah Allah semata, tidak
menyekutukanNya dengan sesuatupun, memerintahkan kami agar melakukan shalat,
membayar zakat, berpuasa, (….selanjutnya Ja’far menyebutkan hal-hal lainnya)…
Keempat: Berkaitan dengan ‘dosa’
mereka yang membuat Quraisy memeranginya, yang secara waras tidak bisa
dibenarkan:
فصدقناه، وآمنا به، واتبعناه على ما
جاءنا به من دين الله، فعبدنا الله وحده، فلم نشرك به شيئًا، وحرمنا ما حرم علينا،
وأحللنا ما أحل لنا، فعدا علينا قومنا، فعذبونا وفتنونا عن ديننا؛ ليردونا إلى
عبادة الأوثان من عبادة الله تعالى، وأن نستحل ما كنا نستحل من الخبائث،
Lalu kami membenarkan hal itu
semua dan beriman kepadanya. Kami ikuti ajaran yang dibawanya dari Allah ; kami
sembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, apa yang
diharamkannya atas kami adalah haram menurut kami dan dan apa yang
dihalalkannya adalah halal menurut kami. Lantaran itu, kaum kami malah memusuhi
kami, menyiksa, merayu agar keluar dari agama yang memerintahkan kami beribadah
kepada Allah, dan mengajak kami kembali menyembah berhala-berhala, menghalalkan
kami melakukan perbuatan-perbuatan keji yang dahulu pernah kami lakukan.
Kelima: berkaitan dengan tujuan
kedatangan mereka, yaitu untuk mencari perlindungan di negeri yang aman disisi
Raja yang adil:
فلما قهرونا وظلمونا وضيقوا علينا،
وحالوا بيننا وبين ديننا خرجنا إلى بلادك، واخترناك على من سواك، ورغبنا في جوارك،
ورجونا ألا نظلم عندك أيها الملك .
Nah, manakala mereka memaksa
kami, menganiaya, mempersempit ruang gerak serta menghalangi agar kami tidak
dapat melakukan ritual agama, kami akhirnya menempuh jalan melarikan diri
menuju negeri tuan. Kami lebih memilih tuan daripada selain tuan dan lebih suka
berada dibawah suaka tuan. Ini semua dengan harapan agar kami tidak terzhalimi
disisimu, wahai tuan raja!”.
Mendengar penjelasan yang begitu
gamblang dari sisi Isi, dan kuat dari sisi retorika (inilah hakikat dari
balaghatul kalam), An-Najasyi bertanya: “Apakah ada sesuatu yang dibawanya
dari Allah bersama kalian?”. Ja’far menjawab: “Ya! Ada”.An-Najasyi
bertanya lagi: “Tolong bacakan kepadaku!”. Disinilah, kefaqiahn Ja’far
diuji, bisa dibayangkan bila Ja’far saat itu hanya berbekal Quran surat
al-Bayyinah atau al-Kafirun, meski keduanya sama-sama surat dalam al-Quran,
namun tentu setiam maqam (situasi) ada maqal (perkataan) yang sesuai. Ja’fur pun memilih membacakan permulaan surat
Maryam, firmanNya: “Kâf-hâ-yâ-‘aîn-shâd”. Dan seterusnya. Manakala
mendengar lantunan ayat tersebut, demi Allah! (ucapan ini sebenarnya berasal
dari penutur kisah ini, yaitu Ummu Salamah yang menyaksikan dengan mata kepalanya
sendiri peristiwa ini-red) sang rajapun menangis hingga air matanya membasahi
jenggotnya. Demikian pula dengan para uskupnya hingga air mata mereka membasahi
mushhaf-mushhaf (lembaran-lembaran-red) yang berada di tangan mereka. Kemudian
an-Najasyi berkata kepada mereka: “Sesungguhnya ini dan apa yang dibawa oleh
‘Isa adalah bersumber dari satu lentera”. Lalu kepada kedua utusan Quraisy
dia berkata: “Pergilah kalian berdua, demi Allah, sekali-kali tidak akan aku
serahkan mereka kepada kalian dan tidak akan hal itu terjadi”.
Namun, bukan Amru Bin ‘Ash, kalau
harus mengalah begitu saja. Keesokan harinya dia mendatangi an-Najasyi dan
berkata kepadanya: “Wahai tuan raja! Sesungguhnya mereka itu mengatakan
suatu perkataan yang sangat serius terhadap ‘Isa bin Maryam”. An-Najasyi
pun mengirim utusan kepada kaum muslimin untuk mempertanyakan perihal perkataan
terhadap ‘Isa al-Masih tersebut. Disiniilah keimanan Ja’far dan sahabatnya
sebagai bagian dari jama’ah yang idiologis diuji, meski mereka sempat kaget
menyikapi hal itu, namun akhirnya tetap bersepakat untuk berkata dengan
sejujur-jujurnya apapun yang terjadi. Ketika mereka datang di hadapan sang raja
dan dia bertanya kepada mereka tentang hal itu, Ja’far berkata kepadanya: “Kami
mengatakan tentangnya sebagaimana yang dibawa oleh Nabi kami Shallallâhu
‘alaihi wasallam :
نقول فيه الذي جاءنا به
نبينا صلى الله عليه وسلم : هو عبد الله ورسوله وروحه وكلمته ألقاها إلى مريم
العذراء البَتُول .
‘Dia adalah hamba Allah,
Rasul-Nya, ruh-Nya dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam, si perawan
yang ahli ibadah’.”.
An-Najasyi kemudian memungut sebatang
ranting pohon dari tanah seraya berujar: “Demi Allah! apa yang kamu
ungkapkan itu tidak melangkahi ‘Isa bin Maryam meski seukuran ranting ini”.
Dia kemudian berkata kepada kaum muslimin : “Pergilah! Kalian akan aman di
negeriku. Siapa saja yang mencela kalian, maka dia akan celaka. Siapa saja yang
mencela kalian, maka dia akan celaka. Siapa saja yang mencela kalian, maka dia
akan celaka. Aku tidak akan menyakiti siapapun diantara kalian, meski aku
memiliki gunung emas” Kemudian an-Najasyi berkata kepada para pejabat
istana: “Kembalikan hadiah-hadiah tersebut kepada keduanya, karena aku tidak
memerlukannya”.
Dengan ini, maka gagalah seluruh
upaya kafir Quraisy dalam menghasut raja Najasyi untuk menolak kaum muslimin
yang hijrah ke Negerinya. Kedua utusan Quraisy itupun keluar dari hadapan Raja Najasyi dengan raut
muka yang kusam karena alasan yang dikemukakan seluruhnya tertolak.
Inilah sosok pejuang Islam didikan
Rasulullah Saw. Ini pulalah yang diperlukan oleh ummat saaat ini. Kebangkitan
ummat bukan hanya membutuhkan orang-orang mukmin yang rajin ibadah (al-‘abid) ,
tapi juga mereka yang berilmu (al-‘alim al-mutsaqqaf), tapi itu saja tidak
cukup, kita juga membutuhkan para ‘alim yang memiliki kesadaran politik yang
mampu memimpin ummat ini terbebas dari cengkraman penjajah. Mengaruskan. Dengan
begitu, kita tentu lebih optimis bahwa pertolangan Allah Swt akan segara turun
bagi Ummat Ini.
