Sunday, March 5, 2023

Islam Indonesia Lebih Baik dari Timur Tengah?


Islam Indonesia Lebih Baik dari Timur Tengah?

Islam Indonesia atau Timur Tengah?

Gejolak Timur Tengah yang hingga kini belum berakhir. Yaman malah semakin memanas. Di Suriah, persoalannya semakin pelik dengan munculnya ISIS. Gejolak berkepanjangan ini kemudian dinilai sebagian kalangan sebagai bukti bahwa Timur Tengah tidak pantas menjadi kiblat kaum muslimin.  Islam Indonesia dinilai lebih baik dari pada Islam Timur tengah. Salah satu faktornya sebagaimana diungkapkan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj, karena Indonesia sudah memiliki komitmen kebangsaan dalam menghadapi konflik, baik konflik internal maupun eksternal. 

Sementara itu di Timur Tengah dilihat Said Aqil persoalan agama dan nasionalisme sangat sulit diwujudkan. Sebab rata-rata di negara Timur Tengah kata dia tidak punya organisasi massa sebagai penengah seperti halnya yang dimiliki Indonesia yaitu ormas sebesar NU ataupun Muhammadiyah. Negara di Timur Tengah disebutnya hanya memilki pemerintah, militer dan partai politik.  Uniknya yang dilihat Said Aqil adalah basis kekuatan partai politik di Timur Tengah adalah berdasarkan kesukuan (http://www.republika.co.id/).

Selain itu, negara-negara di kawasan Timur Tengah kebanyakan tidak mempraktekkan demokrasi. Padahal, kata Said Agil Siradj, Islam dengan jelas menganjurkan demokrasi sebagai azas bermasyarakat. Lebih buruk lagi, negara-negara di kawasan Timur Tengah tak henti-hentinya mengobarkan konflik dan terorisme.

Lebih lanjut, Koordinator Presidium Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Indonesia (KAHMI), Mahfud MD, mengatakan Indonesia seharusnya bisa menjadi pusat pemikiran Islam. Sebab, Islam di Indonesia lebih moderat dan bisa diterima banyak pihak. 

Senada dengan itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla menyerukan agar Islam di Indonesia mampu menjadi teladan dan referensi bagi peradaban dunia. “Indonesia harus menjadi pelopor pemikiran-pemikiran kebersamaan yang lebih baik. Harus menjadi referensi di dunia ini, Islam yang moderat, Islam menjadi referensi dunia,” kata Wapres, saat memberikan sambutan dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VI di Pagelaran Keraton Yogyakarta, Senin [09/02].

Islam Ramatan Lil ‘Alamin


Keingianan untuk menjadikan Islam Indonesia menjadi pusat pemikiran Islam, referensi bagi peradaban dunia, dan teladan dalam membangun kerukunan dan perdamaiana adalah tentu cita-cita yang mulia. Namun, menjadikan konflik yang terjadi di timur tengah saat ini, sebagai justifikasi bahwa Islam di Indonesa lebih baik dari timur tengah, hal tersebut perlu dikaji lebih mendalam. Apakah karena Islamnya, orang Islamnya, watak masyarakatnya, ataukah ada hal lain di luar itu. Generalisasi adalah sikap yang gegabah.
 
Islam adalah ajaran yang universal. Islam mampu menjadikan bangsa manapun yang tunduk dengan ajarannya menjadi umat agung. Allah Swt berfirman:

 

وَمَآ أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّرَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS.al-Anbiya :107)

Pendikotomian antara Islam Indonesia dan Islam Timur Tenga merupaka pemahaman yang dibangun atas premis yang keliru.  Yaitu premis bahwa pemahaman (konsep dan hukum) Islam berubah dengan berubahnya tempat dan zaman. Padahal, pemahaman Islam ditentukan oleh sumber dalil syar'i yang digunakan dan metode penggalian (istinbath) pemahamannya. Baik sumber dalil syar'i maupun metode penggalian pemahamannya tidak berubah dengan berubahnya tempat dan zaman. 

Oleh karena itu, pemahaman (konsep dan hukum) Islam tidak berubah dengan berubahnya tempat dan zaman. Pemahaman Islam harus dibangun berdasarkan dalil syar'i. Konsep atau hukum yang dinisbatkan  kepada Islam berarti konsep atau hukum tersebut dinisbatkan kepada Allah Swt.  


Lebih lanjut, jika konsep atau hukum dinisbatkan kepada Allah Swt., maka konsep dan hukum tersebut harus didasarkan pada dalil syar'i, yaitu dalil yang diambil dari wahyu atau dari sumber dalil lain yang ditetapkan sebagai sumber dalil oleh wahyu. Berbicara dalam urusan agama tanpa dalil merupakan kadzib (dusta). Allah Swt berfirman:


وَيُنذِرَ الَّذِينَ قَالُوا اتَّخَذَ اللهُ وَلَدًا  * مَّالَهُم بِهِ مِنْ عِلْمٍ وَلاَلأَبَآئِهِمْ كَبُرَتْ 
كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِن يَقُولُونَ إِلاَّ كَذِبًا


Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata:"Allah mengambil seorang anak". Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.
(QS. al-Kahfi:5)
 
وَلاَتَقُولُوا لِمَاتَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلاَلٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللهِ الْكَذِبَ لاَيُفْلِحُونَ
 
Dan janganlah kamu mengatakan terhadapa apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (QS. an-Nahl :116)

Islam menggolongkan tindakan tersebut sebagai dosa besar. Allah Swt berfirman:
 
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَ مِنْهَا وَمَابَطَنَ وَاْلإِثْمَ وَالْبَغْىَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللهِ مَالَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللهِ 
مَالاَتَعْلَمُونَ

Katakanlah:"Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui
". (QS. al-A’rof:33).

Meski demikian, kenyataan Islam sebagai agama wahyu bukan berarti menutup adanya perbedaan di tengah-tengah umatnya.  Namun perbedaaan itu, sekali lagi bukan karena perbedaan tempat dan waktu atau karakter umat Islam, melainkan Karena adanya perbedaan dalam metode penggalian (istinbath) pemahaman, baik karena aspek bahasa (al-llughah), riwayah dan dhiroyah terhadap hadis, ataupun kaidah-kaidah ushul.
 
Memang benar bangsa arab, sebelum diutusnya Rasulullah Saw, adalah bangsa yang diliputi panatisme kesukuan. Namun Islam mampu melebur mereka menjadi umat yang satu. Adapun peperang yang dilakukan oleh Rasulullah Saw bersama para sahabatnya, tentu bukanlah disebabkan oleh panatisme kesukuan, melainkan perintah sayari’at dalam rangka menghilangkan halangan fisik dalam menyebarkan Islam. 

Tolok ukur baik dan buruknya suatu bangsa tentu tidak bisa dinilai dengan apakah mereka sering terlibat peperangan ataukan tidak. Sebaliknya, jihad merupakan ajaran Islam yang universal yang dicontohkan Rasulullah saw sebagai solusi terakhir dalam melakukan aktivitas penyebaran Islam. Sementara itu, Rasulullah adalah qudwah (teladan) bagi seluruh umat Islam di Dunia.
 

Menilai ‘Revolusi’ Timur Tengah


Gelombang revolusi melanda dunia arab, berawal dari Tunisia dan dengan cepat menyebar ke Mesir, Libya, Yaman, dan  Suriah, meski belum berhasil melepaskan dunia Islam dari penguasa diktator dan antek-antek penjajah, tapi tetap diharapkan bisa menjadi  prolog menuju perubahan yang hakiki di masa yang akan datang. Pergerakan kaum muslimin di Timur Tengah menunjukan  bahwa umat Islam belum mati. 

Sebaliknya, saat ini rasa takut  terhadap para pengusa diktator telah sirna. Kaum muslimin berani menunjukan kemarahannya dengan turun ke jalan-jalan untuk menuntut perubahan, meskipun harus berhadapan dengan moncong senjata para pendukung penguasa. Akhirnya,  Mubarak, Ben Ali, Qaddafi, Ali Abdullah Saleh dkk pun tumbang.
 
Gerakan masyarakat akibat kezaliman penguasa sesungguhnya merupakan perkara yang alamiyah. Hal itu bukan hanya berlaku bagi bangsa arab atau timur tengah. Di Eropa bahkan di Indonesia, yang masyarakatnya dikenal ‘santun’ dan ‘toleran’ pun hal itu bisa terjadi.

Menisbatkan gejolak Timur Tengah kepada keislaman umat Islam di sana adalah kesalahan fatal dan  lebih merupakan upaya generalisasi. Umat Islam di seluruh dunia seharusnya mendukung mereka untuk bisa keluar dari kezaliman para penguasanya. Bukan hanya dukungun, melainka juga mengawal agar gerakan mereka tidak sia-sia dan sebatas menjatuhkan rezim, sementara sistem yang berlaku tetap sama.
 
Inilah yang terjadi di Timur Tengah saat ini. Revolusi umat Islam bisa dibilang gagal.  Arab Spring faktanya hanya berhasil mengganti sebagian rezim di sebagian negeri seperti Tunisia, Libya dan Mesir. Adapun sistem yang bercokol di negeri-negeri tersebut tetaplah sistem usang, yakni sistem sekular. Ha yang sama juga terjadi di Indonesia, saat mereka berhasil menjatuhkan rezim Soeharto. 

Hampir dua dekade, proses reformasi berjalan, masyarakat semakin hari semakin sengsara.  Dengan kata lain, Fakta menunjukan sistem demokrasi atau sistem kerajaan hasilnya tetap sama. Lalu dari sisimana kita menilai umat Islam di Indonesia lebih baik dengan sistem demokrasi yang dipilihnya.? Indonesia saat ini justru terperosok dalam cengkraman ‘neoliberalisme’ dan ‘neoimperialisme’ yang menyengsarakan.

Kegagalan ini disebabkan oleh tidak adanya gagasan idologis yang diemban para aktivis perubahan, termasuk partai-partai Islam. Gerakan mereka hanyalah didorong oleh faktor emosional belaka. Disamping itu, terdapat kekeliruan pada jalan perubahan yang ditempuh, yakni melalui people power, aksi bersenjata dan demokrasi. Seharusnya Ideologi Islam menjadi satu-satunya dasar perjuangan.
Mewaspadai politik “adu domba” penjajah.

Bukan hanya gagal meraih cita-citanya, gejolak timur tengah di beberapa negara seperti di Libya dan Yaman, juga memasuki fase berikutnya yang mengkawatirkan, yaitu konflik internal kaum muslimin.  Begitupun yan terjadi di Suriah. Namun, Sekali lagi, kita tidak boleh melakukan generalisasi. Sebab, konstelasi politik di negeri-negri tersebut berbeda satu sama lain, mengikuti kepentingan dan dominisi penjajah di masing-masing wilayah.  

Barat penjajah memang bisa bersatu saat mereka memerangi Islam. Namun, mereka memiliki kepentingan sendiri-sendir di negeri kaum muslimin khususnya di Timur Tengah. 
 
Menisbatkan instabilitas Timur Tengah kepada watak keislaman kaum muslimin di sana, merupakan tindakan tutup mata terhadap kepentingan-kepentingan negara-negara besar di wilayah tersebut. Setidaknya ada empat faktor yang menyebab instabilitas Timteng hingga saat ini: 
(1) Potensi Ideologi Islam yang selalu mengancam kepentingan barat,
(2) persoalan minyak, 
(3) Letak strategis Timteng, 
(4) Institusi yahudi yang sengaja di tanam oleh barat.
 
Sebagai contoh, gejolak di Suriah yang masih terjadi hingg saat ini, tak lebih karena revolusi umat Islam di sana lebih membahayakan barat. Sampai sekarang, barat belum berhasil memalingkan tujuan ‘tsauroh’ disana hingga tunduk kepada keinganan barat. 

Disisi lain, Tsaroh as-Syâm (Revolusi di bumi Syam), sampai saat ini masih menjadi harapan besar umat agar benar-benar menjadi jembatan yang mengantarakan mereka dari  fase pemerintahan diktator menuju fase Khilafah Rasyidah ‘Ala Minhajin Nubuwwah, dianggap lebih berbahaya bagi kepentingan barat, karena Revolusi Syam masih memiliki pilar-pilar yang  masih kokoh hingga sekarang, yakni: 
  1. Meruntuhkan sistem yang saat ini berkuasa di Suriah, beserta seluruh pilar dan simbol-simbolnya,
  2. Menolak intervensi asing (negara-negara kafir) beserta seluruh agen-agennya, 
  3. Menegakkan Daulah Khilâfah ‘Alâ Minhaj an-Nubuwwah.

Oleh sebab itu, selama barat belum berhasil memadamkan revolusi ini atau sebaliknya kaum muslimin berhasil meraih tujuan hakiki mereka, maka Suriah akan senantiasa bergejolak. Keberadaan ISIS di suriah, yang tidak di terima oleh pejuang-pejuang kaum muslimin lain, menunjukan bahwa mereka telah memiliki kesadaran tentang Islam yang ingin mereka tegakkan. 

Cita-cita mereka bukanlah menerapkan sistem demokrasi seperti yang dipaksakan barat, bukan pula ‘khilafah-khilafahan’ seperti yang ditawarkan ISIS. Oleh  karena itu, Revolusi Suriah wajib didukung dan terus di kawal oleh seluruh umat Islam di Dunia, agar tidak berhasil dibelokan. 

Kita seharusnya menyeru kaum muslimin di sana untuk menghentikan peperangan antar kelompok dan brigade serta tidak menghabiskan energi dalam peperangan yang tidak penting yang menguras energi; menolak proyek pembentukan negara madani yang dipaksakan barat;  tetap Independen dalam mengambil keputusan, baik dalam urusan politik maupun militer; menolak intervensi asing dalam segala bentuknya, baik politik, militer, pertahanan kemananan; memutus hubungan dengan negara-negara barat secara totali; dan berpegang teguh kepada metode dakwah Rasulullah Saw dalam menegakan Khilafah Islam.

Membandingkan kondisi umat Islam di Suriah dengan kondisi ‘aman’ di Indonesia, merupakan tindakan abai terhadap perjuangan saudaranya sendiri. Bila ini yang terjadi, berarti  kita benar-benar telah terperangkan dalam racun nasionalisme.

Lain halnya dengan yang terjadi di Yaman. Setelah ‘Revolusi Yaman’ berhasil dihentikan dan tetap dalam cengkraman barat, pertarungan sengit berikutnya terjadi antara AS dan Inggris. Disatu sisi, AS terus berupaya untuk menancapkan pengaruhnya di sana, di sisi lain Inggris juga berusaha untuk mempertahankan dominasinya, melalui agen-agen lamanya yang di pimpin oleh Abdullah Saleh dan dilanjutakan oleh Abdu Rabbih Mansur Hadi. 

Sebab, kenyataanya,  meski Saleh berhasil ditumbangkan, revolusi Yaman tak mampu menghilangkan pengaruh Inggris. Pengaruh Inggris di kalangan militer dan partai politik masih sangat kuat. Oleh karena itu, AS terus menjalankan kepentingannya melalui dua kartu yang dimilikinya, yakni kelompok Houthi dan gerakan selatan yang menuntut pemisahan Yaman. 

AS tak pernah menyetujui hasil-hasil perundingan yang  bertolak belakang dengan kepentingannya atau menguatkan pengaruh Ingris di Yaman. Hal ini nampak jelas dalam pernyataan utusan PBB, Gamal Ben Omar, pada 27/11/2013 untuk memperpanjang dialog, sementari itu Duta Ingris, Mariot menginginkan hal sebaliknya tiga hari sebelum Gamal menyatakan pendapatnya. 
 
AS lah yang berada dibalik bentrokan-bentrokan melibatkan kelompok Houthi, tujuannya adalah untuk menciptakan instabilitas di Yaman dan akhirnya agen-agen Inggris bisa  disingkirkan. Setelah kelompok Houthi berkuasa, AS pula lah yang berada dibalik serangan yang dimotori Arab Saudi tersebut. Tujuannya, agar AS bisa membuatkan perundingan yang menguntungkan agen-agennya dengan terlebih dahulu memposisikan Houthi seperti kelompok yang terzalimi hingga layak mendapatkan dukungan. Mengingat, Houthi sendiri sangat sulit untuk bisa mengendalikan stabilitas Yaman, meskipun al-Hadi telah berhasil diusir. 

Dengan kata lain, pertarungan sesungguhnya terjadi antara AS dan Inggris dengan menggunakan sarana-sarana mereka di Yaman, yakni dengan  untuk menyulut konflik madzhab dan suku untuk kepentingannya mereka masing-masing.

Hal yang sama juga terjadi di Indonesia, di era 1945-1950an. AS lah yang berada dibalik pemberontakan-pemberontakan di Indonesia, seperti pemeberontakan PKI madiun, DI/TII, APRA, RMS, PRRI, dll, untuk menekan Sukarno hingga tunduk kepada kepentinganya. Usaha  AS terbukti berasil.  

Di akhir pemerintahnya, Soekarno mengesahkan UU penanaman modal asing, yang dikemudian hari menjadi legitimasi penjarahan kekayaan alam Indonesia oleh asing khususnya AS. Meski begitu, Sukarno pun digantikan dengan loyalis AS berikutnya.

Al-hasil, sangat naif bila kita mengkaitkan instabilitas Timur Tengah dengan ciri keislaman kaum muslimin. Sebab hal yang sama juga pernah terjadi di Indonesia. Justru fakta-fakta inilah yang seharusnya membuat umat Islam di seluruh dunia untuk tetap waspada dari politik pecah belah penjajah. 

Adanya pembedaan ormas lokal dan trannasional misalnya, bisa jadi menajadi alat barat untuk melemahkan umat Islam di Indonesia. Lebih jauh, kaum muslimin seharusnya bersatu padu melepaskan cengkraman pejajah di negri mereka. Bangsa ini tentu tidak menghendaki ‘keamanan semu’ sementara negeri mereka terjajah. Sebab, sejatinya tidak ada keamanan dengan bercokolnya para penjajah. Neoliberaslisme dan neoimperialisme terbukti membuat rakyat negeri ini menderita. 


Wallahu A’lam  


oleh: [Abu Muhtadi]

No comments:

Post a Comment